AQIDAH SALAF DALAM SIFAT ISTIWA’ BAGI ALLAH
DAN BANTAHAN KEPADA PARA PENTAKWIL
Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi
Salah satu sifat Allah yang harus kita tetapkan adalah sifat istiwa’ bagi Allah. Sifat istiwa’ bagi Allah telah ditetapkan dalam Al Qur’an, hadits dan ijma’ ulama. Seringkali dalam Al Qur’an, Allah berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah.Yang beristiwaa’ di atas ‘Arsy”.
Ayat-ayat serupa yang menegaskan sifat istiwa’ di atas arsy ada di tujuh tempat dalam Al Quran yaitu:
- Surat Thaha: ayat: 5
- Surat Al A’raaf, ayat: 54.
- Surat Yunus, ayat: 3.
- Surat Ar Ra’d, ayat: 2.
- Surat Al Furqan, ayat: 59.
- Surat As Sajdah, ayat: 4.
- Surat Al Hadiid, ayat: 4.
Makna Istiwaa’ Menurut Salaf Dan Pakar Bahasa Arab
Makna istiwa’ dalam bahasa Arab sangat jelas, karena Al Qur’an dengan bahasa Arab yang jelas. Bila kita telaah ucapan para salaf dan para pakar bahasa niscaya kita akan temukan makna istiwa’ adalah Uluw dan Irtifa’ (tinggi).
Ishaq bin Rahawaih berkata: “Menceritakan kepada kami Bisyr bin Umar: Saya mendengar tak sedikit dari ahli tafsir mengatakan bahwa istawa adalah irtafa’a (tinggi)”. (Diriwayatkan Adz Dzahabi dalam Al Uluw, dan sanadnya shahih, sebagaimana dikatakan Al Albani dalam Mukhtashar Al Uluw hlm.160)
Imam Bukhari dalam Shahihnya juga menukil dari Imam Abul Aliyah dan Mujahid penafsiran mereka tentang istiwa yaitu ‘ala wa irtafa’a (tinggi). (Shahih Bukhari 13/403 -Fath-)
Imam Al Baghawi dalam Tafsirnya 1/59 juga menukilkan penafsiran ini dari Ibnu Abbas dan mayoritas ahli tafsir serta Khalil bin Ahmad (ahli bahasa). Demikian pula dalam kitab tafsir-tafsir bil ma’tsur seperti Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnul Mundzir, tafsir Ibnu Abi Hatim, dan masih banyak lagi lainnya. (Lihat Dar’u Ta’arudhil Aqli wa Naqli 2/20-22, Majmu Fatawa 5/518). Bahkan Ibnul Qayyim menukil ijma’ akan penafsiran tersebut. (Mukhtashar Shawaiq Mursalah hlm. 320)
Inilah makna ucapan al-Imam Malik ibn Anas dalam atsar yang shahih dan masyhur:
الاسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
“Istiwa’ itu maklum (diketahui maknanya); adapun bagaimana (keadaan)nya, majhul (tidak diketahui); mengimaninya, wajib; bertanya tentang bagaimana (keadaan)nya, bid‘ah.”
(Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam al-Iklil (hlm. 5), “Para ulama telah menerima atsar ini, dan tidak ada di kalangan Ahlussunnah seorang pun yang mengingkarinya.” Beliau juga berkata dalam Syarh Hadits Nuzul (hlm. 391), “Para ahli ilmu menerima ucapan beliau ini dan memujinya.” {Lihat lebih detail dalam kitab al-Atsarul-Masyhur ‘Anil-Imam Malik karya asy-Syaikh Dr. ‘Abdurrazzaq ibn ‘Abdulmuhsin al-‘Abbad!}
Aqidah Salaf Menetapkan Sifat Istiwa Bagi Allah
Kaidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah sifat-sifat Allah sangatlah mudah yaitu menetapkan sifat-sifat Allah yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan Rasulullah dalam hadits yang shahih tanpa menyerupakannya dengan makhluk dan tanpa membagaimanakan.
Jadi, bila kita menerapkan kaidah-kaidah ini sampai ajal tiba maka kita akan selamat dari penyimpangan, yaitu:
a. Menetapkan semua nama dan sifat yang Ditetapkan oleh Allah dalam al-Qur’an dan Nabi Muhammad dalam hadits-haditsnya yang shahih.
b. Tidak menyerupakannya dengan makhluk.
c. Tidak menetapkan bagaimana keadaan sifat Allah karena itu di luar jangkauan akal manusia.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha-mendengar dan Maha-melihat. {QS asy-Syura (42):11}
Allah juga berfirman:
ولا يُحِيطُونَ بِهِۦ عِلْمًا
Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. {QS Thaha (20):110}
Jadi, kita menetapkan sifat-sifat Allah seperti istiwa’ bagi Allah sebagaimana Dikabarkan oleh Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk dan tanpa memikirkan bagaimananya.
Al-Imam Ibnu Katsir berkata, “Dan telah diriwayatkan dari ar-Rabi‘ (seorang murid senior al-Imam asy-Syafi‘i) dan beberapa sahabat seniornya yang menunjukkan bahwasanya beliau (al-Imam asy-Syafi‘i) menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits (yang menyebutkan) sifat-sifat Allah seperti apa adanya tanpa takyif (menerangkan bagaimana keadaannya), tanpa tasybih, tanpa ta‘thil, dan tanpa tahrif; sesuai dengan metode salaf.” (Al-Bidayah wan-Nihayah (5:694).
Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan, ketika menafsirkan ayat istiwa’ dalam Surat al-A‘raf (7):54, “Manusia dalam menyikapi masalah ini memiliki banyak pendapat; bukan di sini tempat untuk memaparkannya. Hanya, yang ditempuh dalam masalah ini ialah jalan salaf shalih; Malik, al-Auza‘i, ats-Tsauri, Laits ibn Sa‘d, asy-Syafi‘i, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih, dan lain-lain dari kalangan para imam kaum Muslimin dahulu hingga sekarang, yaitu menjalankannya sebagaimana datangnya tanpa takyif, tanpa tasybih, dan tanpa ta‘thil.
Apa yang terlintas dalam benak orang-orang yang menyerupakan harus dibersihkan dari Allah karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, bahkan sebagaimana kata para imam—di antaranya adalah Nu‘aim ibn Hammad guru al-Imam al-Bukhari—,
مَنْ شَبَّهَ اللهَ بِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، وَلَيْسَ فِيْمَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا رَسُوْلُهُ تَشْبِيْهًا.
‘Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, kafir; dan barang siapa mengingkari sifat Allah yang ditetapkan, kafir; dan menetapkan apa yang Allah Sifatkan pada diri-Nya dan Rasul-Nya (sifatkan tentang Allah) tidaklah termasuk tasybih.”
Barang siapa menetapkan ayat-ayat dan hadits shahih bagi Allah sesuai dengan kebesaran Allah dan menyucikan Allah dari segala cacat, dia telah menempuh jalan petunjuk.” (Tafsir al-Qur’anil-‘Azhim (3:426–427).
BANTAHAN TERHADAP TAKWIL ISTAWA DENGAN ISTAULA (Menguasai)
Sebagian kalangan yang tersesat dalam masalah ini mengingkari sifat istiwa’ bagi Allah dengan merubah maknanya, karena hawa nafsu mereka, sebab sifat istiwa’ bagi Allah tidak sesuai dengan paham mereka yang mengatakan Allah di mana-mana, sehingga mereka merubah makna istiwa dengan istaula (menguasai), maka ini adalah penafsiran yang bathil dari beberapa segi, di antaranya:
- Penafsiran ini tidak dinukil dari kalangan salaf, baik dari kalangan shahabat maupun tabi‘in. Tidak seorang pun dari mereka yang menafsirkan seperti penafsiran ini, bahkan orang pertama kali yang menafsirkan istawa dengan istaula adalah sebagian kaum Jahmiyyah dan Mu‘tazilah sebagaimana diceritakan oleh Abul-Hasan al-Asy‘ari dalam bukunya, al-Ibanah.
Al-Imam al-Asy‘ari mengatakan, “Kaum Mu‘tazilah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah mengatakan bahwa istawa maknanya adalah istaula ‘menguasai’ dan bahwasanya Allah Berada di setiap tempat dan mengingkari kalau Allah di atas ‘arsy-Nya sebagaimana pendapat ahlilhaq sehingga mereka berpendapat bahwa istawa adalah ‘menguasai’. Seandainya apa yang mereka katakan benar, berarti tidak ada bedanya antara ‘Arsy dan Bumi karena Allah Menguasai segala sesuatu.” {al-Ibanah ‘An Ushul Diyanah (hlm. 410–411, tahqiq al-Ushaimi).} - Sesungguhnya menafsirkan kitab Allah dengan penafsiran yang baru dalam menyelisihi penafsiran salaf shalih, mengandung dua perkara, yaitu: entah dia yang salah atau salaf shalih yang salah. Seorang yang berakal sehat tidak akan ragu bahwa penafsiran baru yang menyelisihi salaf shalih ini yang pasti salah.
- Tidak ada dalam bahasa Arab, kata istawa berarti istaula, bahkan hal ini diingkari oleh pakar bahasa seperti al-Imam Ibnu ‘Arabi dan al-Khalil. (Syarh Ushul I‘tiqad karya al-Lalika’i (3:399).
Adapun bait syair yang dibawakan sebagian kalangan untuk mendukung klaim mereka,
قَدِ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ
مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَلا دَمٍ مُهْرَاقٍ
Bisyr telah menaklukkan, menguasai dan mengatur Irak tanpa darah yang tertumpah.”
ketahuilah bahwa tidak ada penukilan yang sangat jelas bahwa bait itu termasuk bait syair Arab. Oleh karena itu, para pakar bahasa mengingkari bait syair ini seraya mengatakan, “Ini adalah bait yang dibuat-buat, tidak dijumpai dalam bahasa.” Bukankah kalau seorang hendak berhujjah dengan hadits, ia harus mengetahui terlebih dahulu keabsahannya? Maka bagaimana dengan bait syair yang tidak diketahui sanadnya ini!!! Majmu‘ Fatawa (5:146).
- Asal sebuah kalam/ucapan harus dibawa kepada makna hakikatnya, tidak boleh dipalingkan kecuali dengan dalil. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakikatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu.” (Tanbih Rajulil-‘Aqil (2:487).
- Konsekuensi dari ta’wil (perubahan arti) dari istawa dengan “menguasai” adalah hal yang sangat fatal yaitu:
Pertama: Anggapan bahwa zhahir yang terlintas dari al-Qur’an adalah istiwa’ Allah sama dengan istiwa’ makhluk. Sungguh ini adalah kedustaan, karena bagaimana mungkin terlintas di hati seorang yang masih suci suatu anggapan bahwa sifat istiwa’ yang Disebutkan Allah dalam tujuh ayat tersebut ternyata sama dengan makhluk.
Kedua: Dari pikiran dan asumsi kotor inilah, kemudian dia mengingkari sifat istiwa’ yang Ditetapkan oleh Allah dengan alasan “lari demi menghindar dari tasybih”. Sungguh ini adalah musibah besar yaitu menolak nash al-Qur’an. Bagaimana mungkin seorang mengingkari sifat yang Ditetapkan Allah. Seakan-akan dia mengatakan, “Sifat istiwa’ tidaklah pantas bagi Engkau, ya Allah, tetapi yang cocok adalah menguasai.” Katakan kepada mereka, “Apakah kalian lebih tahu dari Allah?!”
Ketiga: Anehnya, mereka mengingkari istiwa’ yang Ditetapkan Allah dengan alasan lari demi menghindar dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tetapi kemudian mereka terjerumus dalam hal yang sama, sebab mereka mengganti dengan makna lain yang juga dimiliki oleh makhluk. Mereka mengartikan dengan istaula (menguasai), padahal makhluk juga menguasai. Sungguh ini musibah di atas musibah, karena menolak sifat dan menggantinya dengan makna lain tanpa dalil, serta tetap terjerumus dalam hal yang sama. (Lihat Manhaj wa Dirasat Li Ayat Fi Asma’ wa Shifat karya asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (hlm. 122)!
Lihat point-point bantahan syubhat ini secara luas dalam Majmu‘ Fatawa (5:144–149), Mukhtashar ash-Shawa‘iq al-Mursalah karya Ibnul-Qayyim (hlm. 319), beliau membantahnya dengan 42 poin. Lihat pula kitab al-Atsarul-Masyhur ‘Anil-Imam Malik Fi Shifatil-Istiwa’ karya Dr. ‘Abdurrazzaq ibn ‘Abdulmuhsin al-‘Abbad al-Badr (hlm. 120–124)!
